They were not so good, since the weather always cloudy and rainy...
Just enjoy..

One corner of Sikuai Island
Dockland
Sampai di Dockland kembali. Indonesian Festival sudah ramai dibanding pagi tadi. Sudah ada acara musik, Batik fashion show dan tarian dari Sulawesi. Wayan nyasar... berhenti jauh dari Dockland, terpaksa jalan yang lumayan jauh. Kayanya grup ini kelelahan, Erland sudah tertidur di kereta dorongnya, sedangkan Erika sudah lesu. Namun mereka menemukan bangunan antik yang kucari-cari di Dockland (berdasaran pamflet tour), Hiks. ..
Banyak bertemu teman Indo disini (iya lah, namanya festival Indo). Salah satunya adalah Rara, HWS-er yang mendapat tugas belajar di Monasch. Sayangnya Rara tidak bisa menemani keliling Melbourne karena ikutan jadi panitia acara hari itu. Guide kita hari ini adalah Adi. Well trims again...
Bangunan di Melbourne yang versi antik (tua) rata-rata bergaya sama dengan Sydney. Namun bangunan yang baru menunjukkan keberanian yang lumayan nyeleneh. Kayanya mereka mengikuti peraturan terakhir dari setiap aturan, yaitu ....break the rule. Sydney kayanya jadi old fashionita dibanding Melbourne. Weh aku masih kagum dengan bangunan di Federation Square yang menurutku benar-benar aneh.
Eifell jadi-jadian & Federation Square
Keliling plus makan malam...gak terasa sudah lewat jam 10. Lumayan cemas, masih ada gak kereta api ke Clayton plus bus ke daerahnya JQ. JQ belum bisa pulang dari acaranya, lagian daerahnya ternyata suburb yang lumayan jauh. Sepertinya dia akan langsung ke Clayton tanpa ke Melbourne dulu. Hiks
Fortunately, Adi juga tinggal di Clayton sehingga bisa pulang bareng. Pusing lagi ketika Adi bilang turun di stasion yang berbeda, karena yang ke stasionku (tpt JQ) bisnya mungkin dah habis. Walaupun rasanya sudah jalan cepat dari stasiun kereta ke halte bis, kami berdua hampir saja ketinggalan bis. Untung sopirnya cukup berbaik hati menunggu setelah melihat aku dan Adi berlarian mengejar bis sambil teriak-teriak.
Begitu naik..bilang thank you very much, nafas ngos-ngosan..dan ternyata penumpang yang menatapku..wajahnya indo semua (rata-rata). Dan ternyata isi bis itu hampir semuanya adalah mahasiswa Indonesia yang baru pulang dari Festival Indonesia di Dockland, aduh senangnya. Thanks God, ketemu Rara lagi karena dia tinggal di daerah yang sama dengan JQ. Sehingga aku tidak akan salah turun halte nanti. Masalah lain yaitu full bladder...., rumah Rara di bagian depan kompleks, lebih dekat...so kudu musti wajib singgah di rumahnya Rara dulu...
Kost-an JQ masih berjalan lumayanlah ke dalam kompleks. Di kost-an Rara ternyata para penghuninya masih bangun, kenalan lagi dan sebagai sesama cewek ternyata gosipnya jadi hingar-bingar lagi. Duh jam sudah menunjukkan pukul 12an...harus pulang neh. Dengan memusatkan pikiran penuh, aku berusaha mengingat-ingat rumahnya JQ diantara temaramnya lampu rumah di sana. Yang ku takutkan cuma satu..., salah masuk rumah orang lain..!! karena kompleks ini rata-rata bentuk rumahnya sama. Sedangkan daerahnya sendiri sih katanya aman.
Sangat lega ketika sampai dan tidak nyasar. Tak beberapa lama, JQ pulang. Kami berdua sama-sama kelelahan namun masih semangat untuk menggosip. Aduh dasar cewek....
Mengingat dan menimbang besok aku harus berangkat pagi-pagi ke Southern Cross untuk berangkat lagi ke Adelaide, gosip secepatnya dihentikan dan mencoba untuk istirahat penuh. Sebelumnya mengingatkan Wayan untuk saling membangunkan keesokan paginya agar tidak terlambat dan tiket terusan kami jadi hangus.
Well, Good Night Melbourne.....See You Soon Adelaide...
Kota Ballarat
Sebagian anggota rombongan minus Erika dan papa-nya
Kereta api sampai di stasiun Ballarat jam 10an. Stasiunnya sendiri adalah bangunan tua yang mirip-mirip gudang. Keluar dari stasiun, kami mendapati kota yang sunyi, hanya satu-satu mobil terlihat di jalan. Bangunannya rata-rata dibangun tahun 1800an..., sudah cukup tua, modelnya mirip-mirip daerah koboi..., beberapa gedung memiliki pintu masuk gaya barnya koboi lengkap dengan jendela kecil menghadap keluar. Well...semua bangunan ini masih bagus dan terawat dengan baik.
Berjalan kurang lebih 30 meter keluar stasiun, kami menjumpai sebuah halte bis. Bis yang ditunggu tidak muncul-muncul, sampai terfikir kalau kita nongkrong di halte yang salah atau ...?. Akhirnya mengambil keputusan untuk menelpon pusat informasi lokal yang tertera di halte. Keraguan ini hilang setelah mereka menjelaskan bahwa busnya akan nyampe dalam beberapa menit lagi. Sabar ya buk...
Di halte bus, bangunan mirip gereja di belakang adalah stasiun kereta apinya
Looking for my cowboy.., eh ketemunya si prajurit yang angkuh..
Oh ya..di Sovereign Hill ini ada ditawarkan juga wisata mencari emas. Namun harus mendaftar dan bayar lagi. Mencari emas ini dilakukan benar-benar di daerah tambang. Jika dapat emas...pengunjung berhak membawa pulang. Hmm menggiurkan juga ya..., emasnya juga bisa dijual on site.
Namun karena terik banget (dan bayar lagi..??) jadi malas ikut tour ini. Apalagi kita bawa anak-anak...kasihan mereka. Karena masih penasaran, maka aku, Wayan, JQ dan Adi membuntuti rombongan tour tersebut. Maksudnya melihat-lihat mekanismenya. Namun belum apa-apa..kami kecele. Karena rombongan tersebut masuk ke bangunan yang dijaga..tanpa tiket..anda tidak boleh masuk. Kecian deh kita....
Beberapa kereta kuda berseliweran. Ada kereta kuda yang belakangnya membawa gentong-gentong air, ternyata berfungsi menyirami jalan desa yang kering. Yang menarik adalah kereta kuda ala Sherlock Holems yang ternyata sekali lagi harus bayar untuk bisa memakainya keliling desa. Eh..ternyata ada juga permainan bowling jaman dahulu kala disini. Bolanya dibuat dari batu yang dibulatkan, jalurnya dari kayu dan pinnya juga dari batu yang terdapat diujung jalur. Ah..ha...permainan ini gratis alias gretong...thank you..!!
Kira-kira jam 2 an ada marching band dengan memakai kostum serdadu Inggris mengitari desa. Mereka berputar dua kali. Katanya sih bakalan ada upacara, gak tahu juga upacara apaan. Upacara diadakan, ada penghormatan ke komandan dan ih..paka tembakan segala.yah ke udara pastinya.. Aku melihat upacara ini seperti upacara hukuman tembakan. Mungkin dulu seperti ini ya... para maling katanya dulu langsung di tembak atau digantung saja. Wes dah mati..masalah selesai..Hiiii..


Auburn..???
Subway....melihat rotinya yang gede banget....maka aku pikir pasti kekenyangan kalau makan sendiri. Jadi kita paroan. Ternyata perut indoku masih berteriak...nasi. Tapi lumayanlah untuk nyumpal cacing-cacing yang berontak. Padahal bekal wayan dah lumayan habis diembat.
